Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

Melodi Cinta di Senja yang Luruh

Di batas senja yang menggugurkan cahaya, kutemukan bayangmu di antara desir angin. Lembut—bagai bisik doa yang tak pernah lelah menyentuh relung hati yang paling sunyi. Cinta, kau datang tanpa suara, tapi hadir seperti cahaya di jendela yang terbuka. Langkahmu lirih, namun jejaknya abadi, menari di halaman sunyi jiwa yang menanti. Ada harum melati di tiap kata yang kau bisikkan, dan waktu seakan enggan bergerak saat matamu menatap—sebuah semesta kecil yang mampu menghapus luka menjadi puisi. Kita bukan hanya dua raga yang bersinggungan, tapi dua jiwa yang berani diam dalam ribut, menyulam makna dari detik-detik biasa, hingga cinta menjadi kesenian yang tak selesai. Biarlah dunia berputar dengan segala gaduhnya— asal kau tetap di sini, menjadi senyap yang paling puitis di antara hiruk dunia yang tak mengerti. MasBim.

Menanti Dalam Pasrah

 Di sudut senyap malam yang panjang, kuhitung bintang, kuhitung harapan, angin membawa namamu perlahan, tapi kau tak juga datang. Aku lelaki dengan dada sunyi, menyulam doa di tiap hening, mengikat rindu tanpa janji, menyeka luka yang tak terlihat orang. Tak lagi kupaksa takdir berbicara, karena cinta bukan tentang memaksa, tapi tentang bertahan… meski hati tergerus waktu dan asa. Kepasrahanku bukan tanda menyerah, melainkan kesetiaan yang tak pernah punah, aku menunggu bukan karena lemah, tapi karena kau, masih layak untuk disemogakan indah. Jika takdir menuliskan kita akhirnya bersua, aku akan menyambutmu tanpa tanya, dan jika tidak... biarlah cintaku gugur diam-diam, seperti daun tua yang rela jatuh—tanpa suara. Kuta, 25 Juli 2025 MasBim.