Menanti Dalam Pasrah
Di sudut senyap malam yang panjang,
kuhitung bintang, kuhitung harapan,
angin membawa namamu perlahan,
tapi kau tak juga datang.
Aku lelaki dengan dada sunyi,
menyulam doa di tiap hening,
mengikat rindu tanpa janji,
menyeka luka yang tak terlihat orang.
Tak lagi kupaksa takdir berbicara,
karena cinta bukan tentang memaksa,
tapi tentang bertahan…
meski hati tergerus waktu dan asa.
Kepasrahanku bukan tanda menyerah,
melainkan kesetiaan yang tak pernah punah,
aku menunggu bukan karena lemah,
tapi karena kau,
masih layak untuk disemogakan indah.
Jika takdir menuliskan kita akhirnya bersua,
aku akan menyambutmu tanpa tanya,
dan jika tidak...
biarlah cintaku gugur diam-diam,
seperti daun tua yang rela jatuh—tanpa suara.
Kuta, 25 Juli 2025
MasBim.
Komentar
Posting Komentar