Melodi Cinta di Senja yang Luruh

Di batas senja yang menggugurkan cahaya,

kutemukan bayangmu di antara desir angin.

Lembut—bagai bisik doa yang tak pernah lelah

menyentuh relung hati yang paling sunyi.


Cinta, kau datang tanpa suara,

tapi hadir seperti cahaya di jendela yang terbuka.

Langkahmu lirih, namun jejaknya abadi,

menari di halaman sunyi jiwa yang menanti.


Ada harum melati di tiap kata yang kau bisikkan,

dan waktu seakan enggan bergerak

saat matamu menatap—sebuah semesta kecil

yang mampu menghapus luka menjadi puisi.


Kita bukan hanya dua raga yang bersinggungan,

tapi dua jiwa yang berani diam dalam ribut,

menyulam makna dari detik-detik biasa,

hingga cinta menjadi kesenian yang tak selesai.


Biarlah dunia berputar dengan segala gaduhnya—

asal kau tetap di sini,

menjadi senyap yang paling puitis

di antara hiruk dunia yang tak mengerti.


MasBim.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jiwa Mati

izinkan

Kenapa Memilih Sastra Indonesia