Postingan

Melodi Cinta di Senja yang Luruh

Di batas senja yang menggugurkan cahaya, kutemukan bayangmu di antara desir angin. Lembut—bagai bisik doa yang tak pernah lelah menyentuh relung hati yang paling sunyi. Cinta, kau datang tanpa suara, tapi hadir seperti cahaya di jendela yang terbuka. Langkahmu lirih, namun jejaknya abadi, menari di halaman sunyi jiwa yang menanti. Ada harum melati di tiap kata yang kau bisikkan, dan waktu seakan enggan bergerak saat matamu menatap—sebuah semesta kecil yang mampu menghapus luka menjadi puisi. Kita bukan hanya dua raga yang bersinggungan, tapi dua jiwa yang berani diam dalam ribut, menyulam makna dari detik-detik biasa, hingga cinta menjadi kesenian yang tak selesai. Biarlah dunia berputar dengan segala gaduhnya— asal kau tetap di sini, menjadi senyap yang paling puitis di antara hiruk dunia yang tak mengerti. MasBim.

Menanti Dalam Pasrah

 Di sudut senyap malam yang panjang, kuhitung bintang, kuhitung harapan, angin membawa namamu perlahan, tapi kau tak juga datang. Aku lelaki dengan dada sunyi, menyulam doa di tiap hening, mengikat rindu tanpa janji, menyeka luka yang tak terlihat orang. Tak lagi kupaksa takdir berbicara, karena cinta bukan tentang memaksa, tapi tentang bertahan… meski hati tergerus waktu dan asa. Kepasrahanku bukan tanda menyerah, melainkan kesetiaan yang tak pernah punah, aku menunggu bukan karena lemah, tapi karena kau, masih layak untuk disemogakan indah. Jika takdir menuliskan kita akhirnya bersua, aku akan menyambutmu tanpa tanya, dan jika tidak... biarlah cintaku gugur diam-diam, seperti daun tua yang rela jatuh—tanpa suara. Kuta, 25 Juli 2025 MasBim.

Tanpa Judul

 Diam  mematung  tak bergerak  namun tetap bernafas  Raganya terlihat sehat dan bahagia, namun hatinya lebam lebam, penuh luka mentalnya perlahan di kikis habis.  Entah mengapa ia bisa tersenyum bahagia, seolah-olah tak terjadi apa-apa.  Ironisnya  Ia dipaksa untuk tetap hidup, dengan raga yang bahagia, namun dengan jiwa yang sudah tak sehat.

Jiwa Mati

 Jiwa Mati karya : Masbim  Teriris mati  Terbelenggu di antara sepi  Sepi yang begitu ramai  Ramai yang begitu sepi  Kala malam semakin larut Bulan di atas memancarkan sinarnya  Hela nafas tak mau bergeming  Sedang lelah buat mulut terhening  Kelelahan berujung nihil  Perjuangan tak ada hasil  Hanya lelah yang kurasa  Setelah semua jadi sia sia  Lantas, apa aku masih layak untuk tetap hidup?

izinkan

 Izinkan.  Izinkan aku mencintaimu di tengah mendung yang tak kunjung turun air.  Izinkan aku mencintaimu layaknya oksigen yang kau hirup setiap hari.  Izinkan aku memelukmu di tengah dinginnya angin sore selepas hujan.  izinkan aku mencintaimu tanpa alasan kenapa aku bisa mencintaimu.                                                                                                                        Parung panjang 23 Januari 2024                                              ...

Sebuah Pencarian

Hingga detik ini saya masih bingung, apakah saya sudah mengikhlaskan mu atau masih ingin mengharapkan kamu untuk pulang? . Mungkin lebih tepatnya di paksa untuk mengikhlaskan kepergianmu. Karena pada dasarnya ikhlas itu bohong, yang ada hanya di paksa melupakan. Saya seperti tersesat di tengah hutan rimba, sendirian sepi, terus berjalan tak tau arah. Mencari mu yang sejak dahulu tak pernah kumiliki. -MasBim

Kenapa Memilih Sastra Indonesia

Perkenalkan nama saya Bima Shevadriansyah biasa di panggil masbim, ada banyak pertanyaan yang muncul setelah saya mengambil juliah jurusan Sastra Indonesia. Namun yang paling sering yakni "Kenapa milih sastra Indonesia?".  saya menyukai sastra sejak patah hati tahun 2019, menurut saya dari pada galau dan melakukan hal hal yang negatif lebih baik di alihkan dengan menuliskan beberapa hal yang bersarang di kepala. Karna lagi pula menurut saya "Setelah menulis saya merasa lebih waras"  dan pada akhirnya daya mengambil kuliah sastra karna untuk mendalami seperti apa dunia sastra itu, seperti apa tata cara penulisan yang benar.  Saya bercita cita ingin sekali menjadi penulis dan masuk kedalam dunia sastra adalah langkah awal saya menuju cita cita saya.